Bunda Theresia

Posted on November 5, 2010

1


Di copy dari tetangga sebelah :

“By blood, I am Albanian. By citizenship, an
Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to
my calling, I belong to the world. As to my
heart, I belong entirely to the Heart of
Jesus. ”

Yg artinya:
“Menurut darah, saya seorang Albania.
Menurut kewarganegaraan, saya seorang
India. Menurut iman, saya seorang biarawati
Katolik. Menurut panggilan, saya milik dunia.
Sementara hati saya, sepenuhnya saya milik
Hati Yesus ”

Itulah yang dikatakan oleh salah seorang
tokoh kemanusiaan yang dipenuhi oleh cinta
kasih.
Bunda Teresa, seorang yang memberi
hatinya untuk melayani di tengah-tengah
masyarakat miskin di India.

Teresa dilahirkan sebagai Agnes Gonxha
Bojaxhiu pada tanggal 26 Agustus 1910, di
Uskub sebuah kota di Kerajaan Ottoman
provinsi Kosovo sekarang Skopje di Republik
Makedonia.
Ayahnya adalah seorang pedagang sukses.
Orang tuanya memiliki tiga anak, dan Agnes
merupakan yang termuda. Ia memiliki dua
saudara perempuan dan seorang saudara
lelaki.
Orang tuanya Nikollë (Kolë) and Dranafile
Bojaxhiu, berasal dari kota Prizen di selatan
Kosovo.
Mereka menganut Katolik, meskipun
kebanyakan orang Albania adalah Muslim
dan mayoritas populasi di Makedonia adalah
Ortodoks Makedonia.

Ia menerima pelayanan sakramen
pertamanya ketika berusia lima setengah
tahun dan diteguhkan pada bulan November
1916.
Ketika berusia delapan tahun, ayahnya
meninggal dunia, dan meninggalkan
keluarganya dengan kesulitan finansial.
Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha
dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih
sayang.

Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat
memengaruhi karakter dan panggilan
pelayanan Gonxha.
Ketika memasuki usia remaja, Gonxha
bergabung dalam kelompok pemuda jemaat
lokalnya yang bernama Sodality.
Melalui keikutsertaannya dalam berbagai
kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor
Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal
misionari.
Tampaknya hal inilah yang kemudian
berperan dalam dirinya sehingga pada usia
tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan
untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.

Pada tanggal 28 November 1928, ia
bergabung dengan Institute of the Blessed
Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama
Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang
dikenal dengan pelayanannya di India.

Ketika mengikrarkan komitmennya bagi
Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih
nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.
Suster Teresa pun dikirim ke India untuk
menjalani pendidikan sebagai seorang
biarawati.
Setelah mengikrarkan komitmennya kepada
Tuhan, ia pun mulai mengajar pada St.
Mary ’s High School di Kalkuta.
Di sana ia mengajarkan geografi dan
katekisasi.

Dan pada tahun 1944, ia menjadi kepala
sekolah St. Mary.
Akan tetapi, kesehatannya memburuk.
Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi
mengajar.
Untuk memulihkan kesehatannya, ia pun
dikirim ke Darjeeling.
Dalam kereta api yang tengah melaju
menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat
panggilan yang berikut dari Tuhan; sebuah
panggilan di antara banyak panggilan lain.
Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi
banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh
Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya.
Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang
mendorong segenap hidupnya.

Saat itu, 10 September 1946, disebut
sebagai “Hari Penuh Inspirasi” oleh Bunda
Teresa.
Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas,
Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai
penghargaan kemanusiaan.
Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII
International Prize for Peace.
Penghargaan ini diberikan langsung oleh
Paus Paulus VI..

Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh
penghargaan Good Samaritan di Boston.
Setelah mengabdikan dirinya selama
bertahun-tahun di India, tentu saja
pemerintah India tidak menutup mata akan
pelayanannya.

Maka pada tahun 1972, Bunda Teresa
menerima Pandit Nehru Prize.
2008-10-mother_theresa_with_armless_baby
Setahun kemudian, ia menerima Templeton
Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih
untuk menerima penghargaan tersebut dari
dua ribu kandidat dari berbagai negara dan
agama oleh juri dari sepuluh kelompok
agama di dunia.

Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia
memperoleh hadiah Nobel Perdamaian.
Hadiah uang sebesar $6.000 yang
diperolehnya disumbangkan kepada
masyarakat miskin di Kalkuta.
Hadiah tersebut memungkinkannya untuk
memberi makan ratusan orang selama
setahun penuh.
Ia berkata bahwa penghargaan duniawi
menjadi penting hanya ketika penghargaan
tersebut dapat membantunya menolong
dunia yang membutuhkan.

*Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan
pusat rehabilitasi pertama agi korban AIDS di
New York.
Menyusul kemudian sejumlah rumah
penampungan yang didirikan di San
Fransisco dan Atlanta.
Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal
of Freedom.
Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak
mengenal batas.
Dipupuk di kampung halamannya, ia
mengawali pelayanan di India.
Dari India, pelayanannya meluas hingga ke
seluruh penjuru dunia.
Ia, di antaranya, berkunjung ke Etiopia untuk
menolong korban kelaparan, korban radiasi
di Chernobyl, dan korban gempa bumi di
Armenia.

Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh
Bunda Teresa tidak mengizinkannya
melakukan aktivitas yang berlebihan,
khususnya setelah serangan jantung pada
1989.
Kesehatannya merosot, sebagian karena
usianya, sebagian karena kondisi tempat
tinggalnya, sebagian lain dikarenakan
perjalanannya ke berbagai penjuru dunia.
Menyadari kondisi kesehatannya yang
demikian, Bunda Teresa meminta Missionary
of Charity untuk memilih penggantinya.
Maka, pada 13 Maret 1997, Suster Nirmalanf
terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda
Teresa.
Sepanjang tahun-tahun terakhir hidupnya,
meskipun mengalami gangguan penyakit
yang cukup parah, Ibu Teresa tetap
mengendalikan kongregasinya serta
menanggapi kebutuhan orang-orang miskin
dan Gereja.

Pada tahun 1997, para biarawatinya telah
hampir mencapai 4000 orang, tergabung
dalam 610 cabang dan tersebar di 123
negara dari berbagai belahan dunia.

Pada bulan Maret 1997, Ibu Teresa
memberikan restu kepada Sr. Nirmala MC,
penerusnya sebagai Superior Jenderal
Misionaris Cinta Kasih.
Setelah bertemu dengan Paus Yohanes
Paulus II untuk terakhir kalinya, ia kembali
ke Calcutta dan melewatkan minggu-minggu
terakhir hidupnya dengan menerima
kunjungan para tamu dan memberikan
nasehat-nasehat terakhir kepada para
biarawatinya.

Pada tanggal 5 September 1997 jam 9:30
malam, Bunda Teresa akhirnya meninggal
dunia dalam usia 87 tahun…………
Upacara pemakaman diadakan pada 13
September 1997, di Stadion Netaji, India,
yang berkapasitas 15.000 orang.
Atas kebijakan Missionary of Charity,
Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri
pemakamannya, sebagian besar yang
menghadiri upacara tersebut adalah orang-
orang yang selama ini dilayani oleh Bunda
Teresa.
Jenazahnya dipindahkan dari Rumah Induk
ke Gereja St. Thomas, gereja dekat Biara
Loreto di mana ia menjejakkan kaki pertama
kalinya di India hampir 69 tahun yang lalu.
Ratusan ribu pelayat dari berbagai kalangan
dan agama, dari India maupun luar negeri,
berdatangan untuk menyampaikan
penghormatan terakhir mereka.

bunda Teresa mendapat kehormatan
dimakamkan secara kenegaraan oleh
Pemerintah India pada tanggal 13
September
Jenazahnya diarak dalam kereta yang sama
yang dulu digunakan mengusung jenazah
Mohandas K. Gandhi and Jawaharlal Nehru,
melewati jalan-jalan di Calcutta sebelum
akhirnya dimakamkan di Rumah Induk
Misionaris Cinta kasih.
Segera saja makamnya menjadi tempat
ziarah dan tempat doa bagi banyak orang
dari berbagai kalangan agama, kaya maupun
miskin.

Bunda Teresa mewariskan teladan iman yang
kokoh, harapan yang tak kunjung padam,
dan cinta kasih yang luar biasa.
Jawaban atas panggilan Yesus, “Mari,
jadilah cahaya bagi-Ku,” menjadikannya
seorang Misionaris Cinta Kasih, seorang
“ ibu bagi kaum miskin”, sebagai simbol
belas kasih terhadap dunia, dan sebagai
saksi hidup bagi Tuhan yang dahaga.

26 April 2002, kurang dari dua tahun sejak
kematiannya, mengingat reputasi Ibu Teresa
yang tersebar luas karena kekudusan dan
karya-karyanya, Paus Yohanes Paulus II
memberikan persetujuan untuk dimulainya
proses kanonisasi bunda Teresa.

Pada tanggal 20 Desember 2002 Bapa Suci
menyetujui dekrit keutamaan-
keutamaannya yang gagah berani dan
mukjizat yang terjadi atas bantuan doanya.

19 Oktober 2003 Paus Yohanes Paulus II
memaklumkan Ibu Teresa sebagai “Beata
Teresa dari Calcutta “.
Inilah perkataan yang diucapkan ibu Theresa
sebelum kematiannya :
“ Kalau saya memungut seseorang yang
lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi,
sepotong roti.
Tetapi seseorang yang hatinya tertutup,
yang merasa tidak dibutuh kan, tidak
dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang
telah dibuang dari masyarakat kemiskinan
spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk
diatasi. ”

Mereka yang miskin secara materi bisa
menjadi orang yang indah.
Pada suatu petang kami pergi keluar, dan
memungut empat orang dari jalan.
Dan salah satu dari mereka ada dalam
kondisi yang sangat buruk.
Saya memberitahu para suster : “Kalian
merawat yang tiga; saya akan merawat
orang itu yang kelihatan paling buruk. ”
Maka saya melakukan untuk dia segala
sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih
tentunya.
Saya taruh dia di tempat tidur dan ia
memegang tangan saya sementara ia hanya
mengatakan satu kata : ” Terima kasih”
lalu ia meninggal.

Posted in: Uncategorized